Alasan Mengapa Anak Harus Tidur Terpisah dari Orangtua

Salah satu persoalan pasangan suami-isteri yang sudah berstatus sebagai orangtua dari satu atau lebih anak-anak adalah kurangnya kebersamaan. Ada istri yang sibuk pegang bayi terus-menerus sepanjang hari. Sementara suami tidak membantu meringankan kerepotan mengurus bayi. Bayi tidur bergabung dalam satu dipan hingga besar. Akhirnya suami-isteri kehilangan waktu untuk berduaan, bermesraan.

Padahal mestinya pasangan suami-isteri harus menjaga hubungan agar rumah tangga tetap harmonis, walau sudah mempunyai anak dan hingga kapanpun. Caranya adalah merawat kedekatan, saling meluangkan waktu bersama. Untuk mendukung semua itu terwujud maka anak harus dibiasakan tidur terpisah dari orangtuanya. Tapi sebenarnya bukan hanya itu saja alasan mengapa anak harus tidur terpisah. Berikut ini sejumlah alasan mengapa anak mesti dibiasakan tidur terpisah dari orangtuanya bahkan sejak dia masih bayi:

  • Ibu butuh istirahat
    Mengurus anak ataupun bayi apalagi yang baru lahir itu menyenangkan namun sekaligus melelahkan. Karenanya ibu butuh istirahat. Ketika anak tidur terpisah, sebenarnya sekaligus memberi ruang bagi ibunya untuk beristirahat.  Mulanya tidurkan bayi di box yang terpisah dari dipan orangtua, walau mungkin di kamar yang sama. Ketika sudah agak besar, pindahkan dia ke kamarnya sendiri. Ibu dan ayah cukup mengantarkan dia tidur, membimbing berdoa dan membacakan dongeng.
  • Suami-isteri butuh waktu berduaan
    Tak dipungkiri pasangan suami dan isteri butuh waktu berdua saja. Mereka pun butuh waktu untuk hubungan intim yang sewajarnya tak boleh melibatkan pihak ketiga, sekalipun anaknya sendiri. Ini kebutuhan penting yang hanya bisa dilakukan secara normal bila anak-anak tidur terpisah dari orangtuanya.

  • Anak belajar mandiri dan berani
    Membiasakan tidur sendiri itu juga melatih anak untuk berani dan mandiri. Bagaimanapun mereka kelak akan harus bertanggungjawab sendiri terhadap dirinya, lepas dari orangtuanya. Mungkin sesekali anak boleh mendapat bonus tidur bersama orangtuanya. Namun sehari-hari, sebaiknya mereka tidur di kamarnya sendiri.

Untuk mewujudkan semua itu, dibutuhkan pengertian antara suami dan isteri. Suami sebagai pemimpin keluarga harus mampu menjelaskan secara persuasif kepada sang isteri mengenai persoalan ini. Suami juga harus rela membantu meringankan tugas isteri mengurus anak agar isteri tidak sibuk sepanjang hari sendirian.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!