Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Malah Harus Diwaspadai. Ini Alasannya

Keluarga mana yang tidak senang mempunyai anak yang gemuk lucu menggemaskan. Sebagian orang bahkan beranggapan, tubuh gemuk si kecil menandakan bahwa si kecil sehat. Karena itu kadang muncul kecemasan pada sebagian ibu, yang anaknya tidak memiliki tubuh gemuk padat berisi. Padahal, tidak selamanya tubuh gemuk si kecil menandakan bahwa ia sehat.

Memantau pertumbuhan berat badan (BB) si kecil sebaiknya dilakukan secara berkala di Posyandu, Pukesmas, pada bidan atau dokter terdekat. Anda bisa memantau BB si kecil melalui Kartu Menuju Sehat (KMS), untuk anak usia di bawah 5 tahun. Jika grafik berada di bawah garis hijau berarti si kecil memiliki BB kurang, mengikuti garis hijau artinya si kecil memiliki BB normal, dan jika di atas garis hijau artinya anak memiliki BB berlebih. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, sebanyak 11,9% anak Balita Indonesia berstatus gizi gemuk.

Jika ternyata si kecil termasuk kelebihan BB, Anda perlu mewaspadai risiko kesehatan yang mungkin terjadi. Anak yang gemuk memiliki risiko mengalami gangguan toleransi glukosa, karena itu ia rentan terkena diabetes melitus tipe 2 suatu saat nanti. Survei  pada 2005-2006 oleh National Health and Nutrition Examination di AS menunjukkan, tingkat pre-diabetes pada anak yang kelebihan BB sebesar 2,6 kali lebih tinggi daripada anak yang memiliki BB normal.

Penelitian di Pusat Jantung Bogalusa, AS menyebut, sebanyak 70% anak usia 5-17 tahun yang obesitas ditemukan memiliki setidaknya satu faktor risiko untuk dapat menderita penyakit jantung. Penelitian lain menyimpulkan, anak obesitas tidak hanya memiliki risiko lebih tinggi penyakit jantung saat ia dewasa, tetapi juga terkait dengan kasus kerusakan jantung selama masa anak-anak.

Anak dengan tubuh gemuk juga berisiko mengalami masalah pernapasan. Salah satunya adalah obstructive sleep apnea, yaitu napas yang berhenti mendadak selama beberapa detik di saat tidur. Sebuah penelitian di Taiwan menunjukkan, risiko obstructive sleep apnea lebih tinggi pada anak yang mengalami obesitas daripada anak yang mempunyai BB normal. Selain sleep apnea, anak gemuk juga berpotensi terkena asma. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang kelebihan BB mempunyai risiko asma sebesar 40-50% lebih tinggi dibandingkan dengan anak dengan BB normal.  

Anak berbadan gemuk juga berpotensi mengalami gangguan otot dan tulang. Penelitian di Belanda yang menyasar anak usia 2-17 tahun menemukan, anak yang kelebihan BB lebih sering mengalami masalah otot dan tulang, terutama pada bagian bawah tubuh, dibandingkan dengan sebayanya yang memiliki BB normal.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!