Bayi Suka Isap Jempol, Normalkah?

Ekspresi lucu bayi atau balita yang sedang asyik mengisap-isap jempol mungilnya seringkali bikin kita gemas ya, Bu? Bahkan ada bayi atau anak-anak yang memiliki kebiasaan mengisap ibu jari mereka sebelum tidur. Tak jarang orang tua merasa kuatir jika ternyata kebiasaan tersebut nantinya bisa berdampak buruk terhadap tumbuh kembang si kecil, terutama pada pertumbuhan dan kondisi giginya. 

Ayah-Ibu, kebiasaan mengisap jari pada bayi dan balita, sebenarnya merupakan hal yang normal. Bahkan bayi sudah mulai punya kebiasaan mengisap ibu jari sejak dalam kandungan, lho. Kebiasaan ini biasanya berlanjut setelah ia lahir sampai usia sekitar 3 bulan. Kebiasaan bayi mengisap jari ini bisa juga merupakan salah satu cara si kecil mengekspresikan emosi yang sedang dirasakannya. Mungkin pada saat lapar atau haus, takut, gelisah, lelah, bayi akan mulai mengisap jarinya agar ia merasa rileks dan tenang.

Ada bayi yang saat mengantuk, juga melakukan kebiasaan ini agar bisa membuatnya lebih nyaman hingga ia tertidur. Dalam hal ini, mengisap jari menjadi kebutuhan si bayi. Kebiasaan mengisap jari ini biasanya akan hilang walaupun antara anak satu dengan lainnya bisa berbeda-beda waktunya. Ada bayi yang masih melakukannya hingga usianya lebih dari 2 tahun. Jangan cemas Ayah-Ibu, hal ini masih dianggap wajar. 

Namun jika kebiasaan ini berlanjut hingga anak berusia sekitar 5 tahun, ada baiknya ayah-ibu segera melakukan upaya agar anak bisa menghilangkan kebiasaan ini. Langkah awal yakni dengan mengetahui penyebab anak terus melakukan kebiasan tersebut. Misal, jika hal ini dilakukan karena anak lapar atau haus, pastikan anak makan atau minum yang cukup menjelang mereka tidur. Jika alasannya karena mereka merasa gelisah, takut atau lainnya, cari tahu penyebab mereka merasakan demikian. Coba alihkan perhatian mereka sebelum tidur misalnya dengan membaca buku atau bercerita, sehingga kebiasaan mengisap jari lama kelamaan tidak lagi mereka lakukan. Lakukan komunikasi dan beri pengertian yang baik kepada anak agar tidak lagi melakukan kebiasaan itu. Bila perlu, konsultasikan masalah ini kepada ahlinya. 

Suka artikel ini? Ayo bagikan!