Diare pada Anak, Kenali Tanda-Tanda dan Penyebabnya

Diare merupakan gangguan kesehatan yang jamak menimpa anak-anak. Apalagi pada anak yang sedang giat-giatnya mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Kuman penyakit sangat mungkin masuk ke saluran pencernaan melalui mainan, atau benda apapun yang mengandung kuman dan dipegang si kecil. Salah makan, alergi teradap makanan tertentu serta mengonsumsi makanan padat sebelum waktunya juga bisa menjadi pemicu diare pada bayi dan Balita. Nah, agar tidak salah dalam memberikan penanganan pertama diare, orangtua perlu mengenali tanda-tanda dan penyebabnya.

Diare merupakan kondisi di mana terjadi perubahan pola buang air besar (BAB), baik dari segi frekuensi, volume, dan penurunan konsistensi tinja (lebih cair). Frekuensi normal BAB bervariasi tiap individu dan tergantung dari usia. Pada kondisi diare, BAB bisa terjadi sebanyak 3 kali bahkan lebih, dalam 24 jam.

Jika Anda memiliki bayi yang baru lahir hingga usia 2 bulan dan mendapatkan ASI eksklusif, maka frekuensi BAB-nya bisa sangat sering, bahkan sampai 10 kali dalam sehari. Jadi, jangan sampai salah menduga jika bayi Anda mengalami diare, padahal sebenarnya masih lumrah pada bayi dengan ASI. Frekuensi ini akan berkurang seiring bertambahnya usia.

Pada anak yang terkena diare biasanya juga diiringi dengan keluhan lain seperti demam dan atau muntah. Berdasarkan durasi waktunya, diare dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu: diare akut, yang terjadi kurang dari 7 hari, diare persisten dengan durasi waktu lebih dari 7 hari, dan diare kronik dengan durasi waktu lebih dari 14 hari. Diare akut pada umumnya disebabkan oleh infeksi: virus, bakteri (kolera, disentri, tiphoid, dan sebagainya), juga infeksi parasit. Selain itu, diare akut juga bisa diakibatkan oleh alergi makanan: susu sapi, protein kedelai. Gangguan penyerapan makanan oleh usus juga bisa memicu diare, contoh pada kasus intoleransi laktosa, lemak, dan protein. Keracunan makanan atau akibat konsumsi obat-obatan tertentu juga dapat menjadi penyebab diare. 

Sebagian besar kasus diare pada anak disebabkan oleh infesi bakteri, sementara sisanya dipicu oleh infeksi virus. Faktor risiko tinggi yang memicu diare antara lain adalah perubahan musim, faktor kebersihan, bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, serta penghentian pemberian ASI kurang dari 6 bulan usia bayi. Nah, jika si kecil mengalami tanda-tanda diare, Anda perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, untuk memastikan pemberian penanganan yang tepat. Konsultasikan pada dokter yang berkompeten agar si kecil mendapatkan perawatan yang terbaik.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!