Frekuensi Normal BAB Bayi dan Balita

Ayah-Ibu, jangan terburu-buru panik jika mendapati bayi Anda sering buang air besar (BAB) dalam sehari. Bayi bisa BAB hingga lebih dari tiga kali sehari. Bahkan bayi bisa langsung BAB setiap kali ia selesai menyusu. Lalu bagaimana jika kemudian terjadi sebaliknya, bayi anda justru jarang BAB? Apakah itu berarti bayi kemungkinan mengalami gangguan pencernaan?

Memantau frekuensi BAB pada bayi dan Balita memang merupakan salah satu hal penting selama proses tumbuh kembangnya. Dalam hal ini, asalkan pola makannya sudah terjaga dengan baik, dan bayi atau Balita Anda tidak menunjukkan gejala ketidaknyamanan, frekuensi BAB yang sering ataupun jarang-jarang sebenarnya tidak perlu terlalu dicemaskan. 

Lalu seperti apa frekuensi BAB yang normal pada bayi dan Balita? Sebenarnya tidak ada patokan khusus terkait seberapa sering bayi sehat harus BAB dalam sehari untuk menentukan normal atau tidaknya sistem pencernaan dalam tubuh si kecil. Frekuensi BAB antara satu bayi dengan bayi lainnya bisa berbeda meskipun usia mereka sama. 

Usia bayi yang bertambah diiringi dengan semakin sempurnanya fungsi sistem pencernaan dalam tubuhnya, akan mempengaruhi pola BAB-nya. Selain itu frekuensi BAB juga bisa dipengaruhi oleh asupan nutrisi dari makanan yang ia peroleh, terutama dari air susu ibu (ASI).  Penelitian terkait pola BAB bayi sehat di Belanda yang dilakukan Jolanda den Hertog dkk pada tahun 2012 menunjukkan dalam 3 bulan pertama kehidupan, bayi yang disusui dengan ASI akan lebih sering BAB, dengan tekstur feses yang lebih lunak dan berwarna lebih kuning, dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula standar. 

Hasil penelitian menunjukkan bayi yang disusui frekuensi BAB rata-rata setiap hari menurun secara signifikan selama 3 bulan pertama (dari 3,65 kali menjadi 1,88 kali per hari). Sedangkan bayi yang diberi susu formula standar atau pemberian makanan campuran (ASI dan susu formula standar), tidak ada perubahan signifikan pada frekuensi BAB-nya. 

Pada setiap usia baik rata-rata dan kisaran BAB, pada bayi yang disusui lebih tinggi daripada bayi yang menerima susu formula. Dilihat dari tekstur feses, bayi yang disusui memiliki feses yang lebih lembut daripada bayi yang diberi susu formula dan warnanya lebih sering berwarna kuning. Pada usia 3 bulan, 50% feses bayi yang diberi susu formula berwarna hijau. Tidak ada perbedaan kuantitas antara ketiga jenis perbedaan makanan tetapi ada korelasi negatif antara frekuensi BAB dan kuantitas.

Dari penelitian tersebut bisa disimpulkan bahwa selain usia, pemberian ASI mempengaruhi frekuensi BAB. Sehingga bayi tidak boleh didiagnosis mengalami sembelit hanya dengan melihat frekuensi BAB-nya. Bayi pun tidak boleh menerima perawatan yang tidak perlu.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!