Kenali Leukemia pada Anak

Tak ada orangtua yang tidak sedih ketika anaknya divonis menderita leukemia atau kanker darah. Namun keganasan sel darah dari sumsum tulang belakang—tempat diproduksinya lekosit ini bisa terjadi pada siapapun, tak terkecuali anak-anak. Untuk Ibu dan Ayah ketahui, angka kejadian leukemia adalah 75% dari seluruh kasus keganasan pada anak-anak Indonesia.  Selain karena factor genetic/keturunan, anak berisiko terkena kanker karena factor lingkungan seperti paparan zat kimia dan polusi udara.

Leukemia yang paling banyak ditemukan pada anak adalah jenis leukemia limfoblastik akut (LLA). Selain leukemia akut, terdapat juga jenis leukemia kronik. Leukemia kronik dibagi menjadi dua, yaitu leukemia mieloblastik kronik (LMK) dan leukemia limfositik kronik (LLK). Penanganan leukemia seringkali terlambat karena anak sendiri belum mampu mengatakan apa yang dirasakan. Anak biasanya dibawa ke dokter hanya dengan keluhan demam atau yang batuk-pilek. Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, baru ditemukan penyakit yang sebenarnya.

Leukemia menyebabkan fungsi sumsum tulang belakang terganggu. Sehingga seluruh kegiatan produksi darah seperti pembentukan darah merah, pembentukan sel limfosit dan juga trombosit terganggu. Anak yang menderita penyakit ini pun akan mudah mengalami perdarahan dan juga infeksi. Gejala yang muncul sebagai akibat terganggunya fungsi sumsum tulang belakang adalah anak akan mengalami anemia. Kulit wajah dan bibir pucat karena kurang sel darah merah.

Selain itu anak juga rawan mengalami perdarahan, seperti mimisan atau lebam di kulit. Ini disebabkan trombosit yang kurang dari jumlah normal. Kemudian anak akan mudah mengalami infeksi bakteri maupun virus, karena lekosit yang diproduksi tidak normal. Demam juga akan berlangsung, selain karena pelepasan zat peradangan juga disebabkan kekebalan tubuh menurun akibat infeksi.

Sementara itu penyebaran sel-sel kanker akan memicu rasa nyeri pada sendi-sendi. Pada sendi juga akan muncul peradangan. Selanjutnya sel kanker yang menyebar ke limfa, hati dan kelenjar getah bening akan menyebabkan pembesaran organ-organ tersebut. Biasanya dari pemeriksaan fisik sudah terlihat pembesaran ini, ditandai dengan perut yang membesar dan terasa keras. Pada kondisi yang parah anak juga bisa mengalami kenaikan jumlah leukosit yang sangat tinggi atau hiperleukositosis. Hiperleukositosis ini bisa meneybabkan komplikasi seperti kejang, sesak napas, perdarahan paru-paru, otak dan ginjal. Sebagai orangtua, bila mengetahui anak mengalami gejala di atas harus segera membawanya ke dokter. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat akan menunjang kesembuhan. Di Indonesia, tingkat kelangsungan hidup anak penderita leukemia LLA cukup tinggi, mencapai 70%-80%. Kendati demikian, anak yang dinyatakan sembuh dari leukemia tetap mempunyai risiko mengalami kekambuhan dengan gejala yang sama.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!