Plus-Minus Obat Puyer, Tetes dan Sirup untuk Anak

Saat anak-anak sakit dan Anda membawanya untuk diperiksakan ke dokter, biasanya Ayah-Ibu akan mendapatkan resep obat. Jenis atau bentuk obat yang diberikan untuk anak antara lain berupa puyer, sirup, maupun tetes jika masih bayi berusia di bawah 1 tahun. Ketiga jenis obat tersebut memang lebih mudah ditelan anak bila dibandingkan obat tablet atau kapsul yang berbentuk padat. Baik puyer, tetes, maupun sirup, lebih mudah larut dan lebih cepat diserap dalam tubuh sehingga reaksinya juga relatif lebih cepat. Ada baiknya sebelum memberikan obat untuk menyembuhkan sakit anak Anda, Ayah-Ibu mengetahui plus-minus atau kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis obat tersebut. 

Obat puyer sering diresepkan dokter karena bisa diracik dengan dosis yang disesuaikan umur dan berat badan anak. Komposisinya tergantung pada kondisi anak. Terlebih ketika obat tablet atau kapsul tidak tersedia dalam kemasan untuk anak, baik itu dalam bentuk sirup maupun tetes. Harga obat jenis ini juga relatif lebih murah, serta dapat digunakan untuk racikan obat kombinasi.

Obat dalam bentuk puyer ini juga relatif lebih stabil untuk disimpan. Meskipun lengkap, tidak semua jenis obat bisa dibuat menjadi bentuk puyer. Misalnya obat yang memiliki sifat mudah menguap, mengandung cairan, mengandung senyawa tertentu, atau obat dengan formulasi khusus.

Dari rasa, biasanya rasa obat puyer juga cenderung pahit hingga banyak anak yang tidak menyukainya dan ini bisa menyulitkan dalam pemberian obat tersebut ke anak. Beberapa orangtua menyiasati rasa pahit ini dengan mencampurnya dengan sirup pemanis obat, atau susu, atau madu. Terkadang ada pula yang mencampurkan obat puyer dengan jus buah. Tapi untuk pencampuran ini sebaiknya Anda konsultasikan dulu dengan dokter Anda lho! Sebab tidak semua obat bisa dicampur dengan susu atau jus.

Obat tetes atau drops biasanya dipakai untuk bayi, atau anak di bawah 1 tahun, atau anak yang berusia lebih besar namun sulit menelan obat. Obat tetes diberikan dengan aturan dosis tertentu. Bentuk tetes ini relatif lebih mudah diberikan kepada bayi dan mencegahnya muntah. Sedangkan untuk anak-anak yang lebih besar biasanya diberi obat sirup. 

Pada umumnya obat tetes maupun obat sirup dinilai praktis karena tinggal diminumkan sesuai takaran yang telah dianjurkan. Dalam kemasan obat tetes maupun obat sirup, biasanya sudah tersedia alat takar berupa sendok takar atau alat tetes dengan takaran. Namun apabila ternyata tidak tersedia alat takar, biasanya menggunakan sendok makan atau sendok teh. Rasa obat sirup biasanya manis, atau ada pilihan rasanya misalnya buah, stroberi, jeruk, apel, anggur, dan sebagainya, walaupun ada beberapa juga yang ketika ditelan terasa pahit. Rasa manis ini lebih menarik minat anak-anak untuk minum obat. 

Sayangnya obat tetes maupun obat sirup tidak selengkap ketersediaan obat puyer. Sehingga dokter biasanya tetap akan meresepkan tambahan obat puyer jika dibutuhkan. Pada umumnya kandungan zat pada obat tetes merupakan campuran atau kombinasi beberapa zat berkhasiat yang kadang-kadang sebetulnya ada yang tidak dibutuhkan pasien. Jarang sekali obat tetes atau obat sirup yang hanya berisi zat tunggal. Harga obat tetes maupun obat sirup biasanya juga relatif lebih mahal dibanding obat puyer. 

Penyimpanan obat sirup atau obat tetes sangat dipengaruhi kelembaban udara. Ketika kemasan obat sudah dibuka maka waktu kadaluarsanya cenderung menjadi lebih pendek. Beberapa obat sirup juga mengandung zat pengawet. Dokter memang punya hak profesional untuk menentukan jenis obat yang akan diberikan kepada pasiennya. Namun saat berkonsultasi dengan dokter, jangan lupa gunakan hak Anda sebagai orang tua pasien untuk bertanya mengenai kandungan, dosis dan cara pakai, indikasi efek samping, hingga kontra indikasi, agar pemakaian obat untuk si kecil tepat sasaran. 

Suka artikel ini? Ayo bagikan!