Isteri Hamil Suami Ikut Ngidam? Ini Penjelasannya

Ngidam merupakan kondisi yang lumrah dialami oleh sebagian besar perempuan hamil. Ibu hamil (Bumil) yang ngidam biasanya akan mengalami hal-hal yang “aneh” atau tidak seperti biasanya. Contohnya, tiba-tiba tidak suka dengan bau tubuh suami, ingin makan buah yang sedang tidak musim, atau bahkan menjadi tidak doyan dengan makanan kegemarannya, dan lain-lain. Meski demikian, ngidam ternyata bukan hanya bisa dialami perempuan. Pihak suami pun ternyata bisa mengalami ngidam. Isteri hamil suami ikut ngidam? Berikut ini penjelasannya.

Meski terdengar aneh, suami ngidam ternyata bisa dijelaskan oleh dunia kedokteran. Para calon ayah bisa mengalami gejala fisik atau psikologis yang mirip dengan gejala kehamilan yang dialami Bumil. Di antaranya: mual, muntah, kram kaki, sakit perut dan punggung, tidak napsu makan atau justru ingin makan makanan tertentu, cemas, stres, perubahan mood yang tiba-tiba, dll. Gejala suami ngidam ini ini bisa berbeda antara satu laki-laki dengan laki-laki lainnya. Ada yang hanya mengalami satu gejala di atas, namun ada pula yang merasakan semua gejala.

Para ahli kesehatan menyebut, suami yang ikut ngidam sejatinya mengalami apa yang disebut dengan couvade syndrome atau sindrom kehamilan simpatik. Meski sejumlah penelitian terkait itu telah dilakukan, namun para ahli belum menemukan penyebab pasti dari fenomena ini. Para peneliti tiba pada kesimpulan, tingginya tingkat stres pada suami akibat kehamilan istrilah yang menjadi pemicu. Perlu diketahui, kehamilan juga bisa menimbulkan stres bukan hanya pada Si Bumil, tetapi juga pada suami. Kecemasan terkait kesehatan, masalah finansial, proyeksi perubahan ritme hidup, ditambah empati maka muncullah sindrom kehamilan simpatik. Pasangan yang menghadapi masalah kesuburan, pernah keguguran, cenderung lebih rentan terkena sindrom ini. Karena level stres mereka jauh lebih tinggi. Semakin kuat ikatan batin suami dengan sang istri, maka gejala yang ia alami juga lebih intens. Pada umumnya, suami ngidam muncul di trimester pertama kehamilan, juga beberapa pekan sebelum persalinan, dan akan menghilang setelah bayi lahir. Yang bisa dilakukan untuk meredakan sindrom tersebut tentu saja dengan meredakan stres. Karena itu, persiapan psikis untuk menjadi orangtua tidak hanya perlu dilakukan pihak isteri, namun juga pihak suami. Jalinlah komunikasi yang intens antara pasutri, agar kecemasan yang meliputi bisa saling diutarakan.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!