Jarak Antar-Kehamilan Terlalu Dekat, Berisiko bagi Ibu dan Bayi

“Biarlah jarak kehamilan dekat, biar sekalian ngurusnya.” Anda pernah mendengar kalimat ini dari teman atau kerabat? Atau mungkin malah Anda sendiri penganut prinsip “It’s okay hamil dengan jarak tak terlalu jauh, biar repotnya (ngurus bocah) sekalian saja”. Eits, nanti dulu. Memiliki bayi dengan rentang jarak usia tak terpaut jauh mungkin memang dipandang “praktis” dari segi perawatan. Kondisi fisik dan psikis si anak tak terlalu berbeda, membuat orangtua pun bisa lebih konsen merawat dan membesarkan anak. Namun dari segi medis tidak demikian adanya. Jarak kehamilan terlalu dekat ternyata berisiko untuk ibu dan bayi.

Para pakar kebidanan sepakat jarak kehamilan dari satu kehamilan ke kehamilan berikutnya yang ideal adalah tak kurang dari 24 bulan. Badan kesehatan dunia, WHO bahkan menyatakan, jarak aman antar-kehamilan sebaiknya antara 2 hingga 3 tahun. Jarak antar-kehamilan kurang dari 2 tahun akan membawa dampak buruk bagi kesehatan ibu juga si jabang bayi.

Perlu diketahui, jarak antar-kehamilan yang terlalu dekat dapat menimbulkan komplikasi serius pada kehamilan maupun proses kelahiran. Penelitian menunjukkan, jarak antar-kehamilan yang kurang dari 12 bulan, dapat meningkatkan risiko kematian pada sang ibu, akibat perdarahan pascapersalinan. Pendarahan ini mungkin terjadi akibat rahim yang belum pulih benar dan belum siap untuk menjadi tempat tumbuh kembang janin yang baru. Pendarahan pascapersalinan rentan terjadi pada kehamilan dengan jarak kurang dari 1 tahun.

Jarak antar-kehamilan yang dekat diketahui tidak memberikan ibu cukup waktu untuk pulih dari stress fisik maupun psikis yang terjadi akibat kehamilan sebelumnya. Kehamilan membuat tubuh ibu kehilangan zat besi dan asam folat dalam jumlah besar. Belum lagi jika ibu memberikan ASI eksklusif. Karena itu, jarak kehamilan dekat tidak saja merugikan bayi yang lahir lebih dulu (ASI tidak maksimal), kesehatan Bumil dan janin pun terganggu karena kebutuhan nutrisi masing-masing tidak terpenuhi. Sementara kurang gizi pada janin dapat menyebabkan kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah hingga kecacatan. Oleh sebab itu, seperti telah disebut di atas, waktu yang paling ideal untuk jarak kehamilan yaitu 2-3 tahun. Dengan begitu, Ibu dapat memberi ASI ekslusif pada bayi yang lahir lebih dahulu, memulihkan dirinya, serta mempersiapkan kondisi terbaik untuk mengandung janin di kehamilan berikutnya.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!