Kapan Ibu Hamil Boleh Naik Pesawat?

Ibu hamil boleh naik pesawat? Tentu saja boleh, namun tidak semua kondisi ibu hamil aman untuk terbang. Untuk mengetahui apakah ibu hamil aman atau tidak melakukan perjalanan naik pesawat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan memutuskan apakah akan memberikan rekomendasi terbang atau tidak dari pemeriksaan fisik, riwayat kehamilan dan rencana penerbangan yang akan dilakukan menyangkut durasi terbang dan hal lainnya.

Ada beberapa situasi ibu hamil biasanya tidak disarankan untuk terbang seperti dilansir babycenter.com. Misalnya yang memiliki tanda-tanda keguguran seperti nyeri, perdarahan ataupun insufisiensi serviks. Juga bagi mereka yang menderita preeklampsia dan sedang dipantau untuk kemungkinan persalinan prematur.  Termasuk pula yang mengalami bocor ketuban tapi belum dalam proses persalinan.

Dokter juga bisa merekomendasikan untuk tidak terbang jika ibu hamil kembar dengan usia kehamilan di atas 28 minggu, serta mereka yang memiliki riwayat keguguran, kehamilan ektopik, mengalami plasenta previa atau kelainan plasenta lainnya. Ini juga berlaku bagi ibu hamil yang memiliki kondisi medis kronis, seperti diabetes ataupun  tekanan darah tinggi.

Ketika ibu hamil berencana terbang, sebaiknya tanyakan pula pada maskapai apa ketentuan untuk ibu hamil yang akan naik pesawat. Sebagian maskapai memang meminta ibu hamil menunjukkan surat rekomendasi terbang dari dokter. Bila memang ibu hamil diizinkan terbang, sebaiknya membawa serta catatan riwayat pemeriksaan kehamilan. Lebih baik lagi adalah meminta rekomendasi dokter di mana bisa memeriksakan kehamilan bila mengunjungi tempat-tempat yang tidak dikenal.

Namun prinsipnya selama ibu hamil sehat dan tak memiliki masalah kehamilan, mestinya tidak ada masalah untuk terbang. Ibu hamil tak perlu khawatir mengenai mesin screening yang menjadi standard keamanan bandara. Paparan radiasinya sangat rendah, sehingga tidak berbahaya bagi ibu hamil dan bayi di dalam kandungan.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!