Polycystic Ovary Syndrome, Apakah Itu?

Istilah Polycystic Ovary Syndrome, mungkin masih asing di telinga Anda. Dalam bahasa Indonesia, PCOS juga disebut dengan sindrom ovarium polikistik merupakan masalah ketidakseimbangan hormon yang dialami perempuan. Karena sindrom ini, seorang perempuan mungkin saja menjadi sulit  hamil. Apakah sebenarnya PCOS itu? 

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik merupakan kondisi terganggunya fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur. Kondisi ini menyebabkan hormon wanita yang menderita PCOS menjadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui. Tanda-tanda awal PCOS adalah menstruasi yang tidak beraturan, meningkatnya kadar hormon pria (androgen), dan munculnya banyak kista (kantong berisi cairan) pada ovarium. Kista di ovarium ini tidak berbahaya, namun dapat memicu ketidakseimbangan hormon. Perubahan pada satu hormon dapat memicu perubahan pada hormon lainnya, sehingga terjadi ketidakseimbangan. Jika seorang perempuan mengalami dua kondisi tersebut, kemungkinan besar dia mengalami PCOS. 

Gejala PCOS akan tampak jelas terlihat ketika seorang perempuan berusia antara 16 hingga 24 tahun. Ciri-ciri fisik yang tampak pada penderita PCOS adalah pertumbuhan rambut yang berlebihan seperti di punggung, wajah, atau dada, serta kulit berminyak hingga berjerawat. Selain itu, penderita juga mengalami kelebihan berat badan, rambut kepala menipis, depresi, hingga kesulitan hamil. Pada menstruasi yang tidak teratur, dalam setahun frekuensinya jadi lebih sedikit, atau jumlah darah yang dikeluarkan saat menstruasi lebih banyak.

Para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab dari PCOS, namun ada beberapa faktor yang diduga memicu terjadinya PCOS, yaitu ketidakseimbangan hormon, resistensi insulin, dan faktor  keturunan. Pada ketidakseimbangan hormon, disebabkan antara lain karena naiknya kadar testosteron, naiknya hormon lutein (mengganggu kerja ovarium). Selain itu, terjadi pula penurunan kadar globulin pengikat-hormon seksual, sehingga aktivitas testosteron meningkat di dalam tubuh, serta naiknya hormon prolaktin (hormon yang memicu produksi air susu).

Jaringan tubuh yang resisten terhadap insulin menyebabkan tubuh terpacu untuk memproduksi lebih banyak insulin yang mengganggu pembuahan normal dan memicu penambahan berat badan. Sementara di sisi lain, jika salah seorang anggota keluarga mengidap PCOS, maka risiko Anda semakin besar untuk terkena PCOS. Jika tidak segera dideteksi dan ditangani, perempuan dengan PCOS berisiko terkena beberapa penyakit seperti, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, hipertensi termasuk semasa kehamilan, sleep apnea, kadar lemak darah tak normal termasuk tingginya kolesterol darah, perlemakan hati hingga infertilitas. PCOS tidak bisa disembuhkan, namun gejala-gejalanya dapat dikendalikan, dengan metode penanganan seperti mengubah gaya hidup, terapi hormon dan pembedahan ovarium. 

Suka artikel ini? Ayo bagikan!