Sudah Pakai Alat Kontrasepsi, Mungkinkah Bisa Hamil?

Mengatur jarak kehamilan memang disarankan dilakukan oleh pasangan suami isteri (Pasutri) yang berniat memiliki anak lebih dari satu orang. Seperti imbauan dari badan kesehatan dunia, WHO, jarak kehamilan yang ideal adalah minimal 2 tahun. Pasutri disarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi untuk mengatur jarak kehamilan. Berbagai metode  kontrasepsi pun bisa dipertimbangkan. Meski demikian, kadang masih muncul kekhawatiran terjadinya kegagalan. Tetap hamil meski sudah pakai alat kontrasepsi, mungkinkah?

Perlu diketahui, tiap-tiap metode kontrasepsi memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Penggunaannya pun harus sesuai dengan anjuran dokter atau ahli kebidanan. Jika abai, kegagalan mengancam, kehamilan yang tak terencana risikonya. Ambil contoh kondom. Alasan kenyamanan kerap menjadi pemicu kegagalan. Karena merasa tidak nyaman dengan kondom, laki-laki kerap memasang kondom hanya saat menjelang ejakulasi. Padahal, jika sebelumnya sperma telah keluar, maka kehamilan bisa terjadi. Atau, bisa juga karena kondomnya bocor.

Pada penggunaan pil dan suntik KB, kelalaian pengguna menjadi penyebab utama kegagalan pencegahan kehamilan. Pil KB berisi hormon estrogen dan progesteron. Pil ini harus dikonsumsi pada waktu yang sama setiap hari. Jika lalai meminumnya untuk dua atau tiga hari saja, risiko kegagalan makin tinggi. Apalagi jika tidak dibarengi dengan alat kontrasepsi tambahan seperti kondom misalnya. Hal serupa berlaku untuk metode kontrasepsi berupa suntik. Suntik KB harus diulang setiap satu atau tiga bulan sekali pada waktu yang sama. Jika pasien melewatkan jadwal penyuntikan ulang, peluang kehamilan makin besar terjadi. Penyuntikannya pun harus pada hari pertama menstruasi, agar haid tetap teratur.

Alat kontrasepsi IUD atau Intra Uterine Device yang tidak terpasang secara benar sangat mungkin menyebabkan terjadinya hamil tak terencana. Semestinya IUD terpasang di dalam rahim. Jika pemasangannya tidak pas, misalnya, di depan atau belakang rahim, kehamilan tetap mungkin terjadi. Agar posisi tetap terpantau, maka perempuan pengguan IUD disarankan untuk rutin kontrol, agar jika terjadi pergeseran posisi dapat segera dikoreksi.

Hampir mirip dengan IUD, pada penggunaan implan (susuk), ketidaktepatan pemasangan implan dapat menjadi penyebab kegagalan pencegahan kehamilan. Bila tenaga medis yang memasangnya kurang terampil, peluang kesalahan makin besar terjadi. Risiko kegagalan semakin besar jika pasien lalai melakukan kontrol rutin. Pun melupakan masa kadaluwarsa susuk yang memiliki masa berlaku antara 3 hingga 8 tahun.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!