Mempersiapkan anak yang akan memasuki jenjang sekolah dasar (SD) bisa menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua, terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang. Berbeda dengan taman kanak-kanak (TK) yang pola dan suasana belajarnya lebih didominasi dengan berbagai aktivitas bermain sambil belajar, pembelajaran di sekolah dasar (SD) lebih serius dengan berbagai materi pelajaran yang cukup banyak dan bisa dibilang lebih sulit dibandingkan saat di TK.
Maka sebelum anak Anda mulai menuntut ilmu di jenjang SD, ada baiknya Ayah-Ibu mempersiapkannya terlebih dulu, terutama untuk kesiapan mentalnya. Agar anak kelak mampu melalui masa transisi pembelajaran dari TK ke SD, lebih mudah beradaptasi, dan bisa menjalani masa-masa belajar dengan baik.
Psikolog Anak, Budhy Lestari S.Psi. Psikolog, mengungkapkan, mempersiapkan anak menjelang masuk SD tidak hanya dilihat dari faktor usia, meskipun hal itu juga tetap menjadi pertimbangan. Usia anak masuk SD rata-rata mulai 6 hingga 7 tahun. Selain itu, owner Biro Psikologi Obsesi dan Kelompok Bermain Pelangi Gonilan, Kartasura, Sukoharjo ini menyebut ada empat aspek yang perlu diperhatikan, yaitu:
- Aspek motorik
Pastikan anak sudah memiliki kemampuan motorik yang cukup, baik itu motorik kasar maupun motorik halusnya. Salah satu contoh kemampuan motorik kasar yakni anak bisa berjalan misalnya berjalan lurus, berjalan ke kanan-ke kiri, tanpa ada kendala. Sedangkan kemampuan motorik halus contohnya adalah anak sudah bisa menulis. Dalam mempersiapkan anak, orangtua sebaiknya melakukan stimulan-stimulan terhadap anak untuk meningkatkan kemampuan motoriknya ini seperti meronce, main playdough, dan sebagainya.
- Aspek kognitif
Aspek kognitif ini berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan akalnya untuk beraktivitas sehari-hari. Misalnya kemampuan untuk memahami, mengerti, mengenali, menangkap informasi yang diterimanya. Kemampuan ini bisa dirangsang dan dilatih, misalnya dengan membacakan buku cerita kemudian anak diminta mengulas atau menceritakan kembali isi cerita tersebut, mengenal huruf dan kata dengan flashcard, dan sebagainya.
- Aspek sosial emosi
Aspek ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengelola gejolak emosinya terutama saat harus berhadapan dengan orang lain. Emosi dalam hal ini tidak selalu negatif, tapi bisa juga yang positif. Orangtua bisa memperkenalkan anak dengan beragam emosi salah satunya melalui emoticon, seperti senang atau bahagia, sedih, marah, terkejut, dan sebagainya. Anak bisa dilatih mempraktikkan atau mengekspresikan emosi tersebut sembari menjelaskan arti emosi tersebut, penyebab, dan sebagainya, termasuk anak juga dilatih untuk berinteraksi sosial. Ini penting karena di SD anak akan menemui lebih banyak teman bila dibandingkan saat di TK, dengan usia yang lebih beragam juga karakternya, termasuk juga guru-gurunya di sekolah. Dengan kemampuan mengelola emosi ini, diharapkan anak akan dapat beradaptasi dengan suasana pembelajaran di lingkungan sekolahnya.
- Kemandirian
Pastikan kemandirian anak sudah terbentuk. Artinya, anak-anak sudah bisa atau setidaknya mau berusaha melakukan beberapa aktivitas kesehariannya sendiri, contohnya toilet training. Latihlah anak agar bisa lebih mandiri. Cobalah untuk menghilangkan kebiasaan anak yang bisa menghambat kemandiriannya. Contohnya jika anak masih ngedot. Dengan masih ngedot, ada kemungkinan anak akan lebih sulit mandiri, apalagi ini juga bisa berkaitan dengan emosi sosialnya. Anak akan merasa malu ketika ada orang lain mengetahui kebiasaan ia masih ngedot padahal ia sudah besar atau sudah SD.