Di ruang-ruang keluarga Indonesia umumnya, seks masih sangat terbatas dibicarakan, apalagi dengan anak-anak. Padahal pendidikan seks untuk anak sangat penting, sebagai bagian dari pembekalan mental anak menuju remaja hingga dewasa kelak. Karena tidak diberikan secara khusus di sekolah, orangtua bertangungjawab memberikan pendidikan seks pada anak-anak. Lantas, apa saja yang anak-anak sebaiknya ketahui dalam pendidikan seks? Berikut ini ulasannya.
Pendidikan seks untuk anak tentu saja harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Untuk usia yang paling dini, 1- 4 tahun misalnya, Anda bisa memulai dengan mengajak si kecil mengidentifikasi tubuhnya, termasuk organ genitalnya. Sebutkan nama-nama organ tubuh si kecil tanpa nama pengganti; misal mata, telinga, atau vagina, penis dan seterusnya. Perbedaan konsep kelamin laki-laki dan perempuan juga mesti diajarkan, agar si kecil terbiasa jika melihat temannya yang berbeda (kelamin). Pengenalan ini penting agar saat telah meremaja, anak tidak merasa canggung berdiskusi dengan orangtuanya perihal kelamin dan organ reproduksinya.
Aspek kebersihan dan kesehatan adalah point berikutnya yang harus diketahui oleh anak. Untuk anak usia lebih besar, 5-7 tahun misalnya, sudah harus diajari tentang menjaga kebersihan alat kelamin. Pada usia ini anak tentu sudah berlatih buang air dan mandi tanpa dibantu orangtua. Misal, untuk anak perempuan perlu diajari bagaimana membasuh anus seusai buang air besar, agar tidak mengotori vagina. Orangtua juga perlu mengajari anak untuk mengganti pakaian dalam secara rutin untuk alasan kebersihan dan kesehatan.
Aspek keamanan dan keselamatan juga harus diketahui anak-anak. Sejak dini anak harus paham, bahwa ada bagian tubuhnya yang harus dilindungi; tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain. Ini menjadi penting sebagai antisipasi terjadinya pecelehan seksual oleh orang asing atau bahkan orang dekat si anak. Anak juga harus dilatih untuk “tahu malu”, agar dapat melindungi organ privatnya. Caranya, misalnya dengan melatihnya untuk tidak sembarang membuka celana atau baju di muka umum.
Untuk anak yang berusia 10 tahun atau mendekati remaja, maka materi pendidikan seks akan bertambah rumit. Di usia ini, anak bisa diberi wawasan tentang bagaimana organ reproduksi bekerja, dan kapan sebaiknya digunakan sesuai dengan batasan norma susila serta agama yang berlaku. Mendekati usia remaja (pubertas) anak akan mengalami perubahan fisik, dan mulai tertarik pada lawan jenisnya. Di usia ini orangtua harus mulai menerapkan rambu-rambu, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak dalam pergaulannya dengan lawan jenis.