Baby Blues Syndrome juga Bisa Menimpa Ayah Lho

Baby blues syndrome atau sindrom baby blues merupakan kondisi yang lumrah dialami oleh para ibu setelah melahirkan. Sindrom ini ditandai dengan mood yang cenderung muram; banyak sedih dan murung. Perubahan mood emosional pada ibu pascamelahirkan ini disebabkan oleh perubahan hormonal dan kimiawi. Penelitian terbaru menemukan, teryata sindrom baby blues tidak hanya menimpa kaum ibu, ayah pun bisa mengalaminya.

Dalam penelitian yang dilansir jurnal Archives of Pediatric and Adolecent Medicine terungkap, tak kurang dari 21% ayah diketahui mengalami depresi singkat dalam satu tahun pertama sejak kelahiran sang bayi. Pada ayah, gejala yang dijumpai adalah menjadi lebih sensitif, menangis tanpa sebab, menangis atau cemas dan menjadi lebih emosional. Baby blues pada perempuan, biasanya terkait dengan perubahan hormonal setelah dirinya melahirkan, dan biasanya berlangsung tidak lama, hanya sekitar beberapa minggu di awal kehamilan.

Berbeda dengan ibu, baby blues yang dialami ayah tentu dipicu oleh sebab yang berbeda. Menurut penelitian yang sama,  adanya riwayat depresi, usia yang lebih muda, dan kurangnya bersosialisasi menjadi faktor risiko baby blues syndrome pada ayah. Bukan hanya itu, penelitian itu juga menyimpulkan, kemungkinan terjadinya depresi dapat meningkat secara signifikan pada masa awal melahirkan.

Faktor usia muda berhubungan dengan kesiapan menjadi ayah. Para ayah yang menderita sindrom baby blues ditengarai tidak siap menjadi ayah. Biasanya, hal ini dipicu oleh kekhawatiran tentang tanggung jawab baru. Khawatir dengan kondisi keuangan juga menjadi pendorong terjadinya baby blues syndrome pada ayah, apalagi jika sang ayah menjadi satu-satunya yang bekerja menghasilkan uang. Laki-laki yang baru kali pertama menjadi ayah juga lebih rentan mengalami sindrom baby blues.

Jika tidak ditangani dengan segera, sindrom ini akan berpengaruh pada kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Karena itu, perlu adanya kerja sama kedua pasangan untuk memberikan dukungan satu sama lain dalam menghadapi peran baru sebagai orangtua. Karena jika dibiarkan berlarut, bisa menjadi post partum syndrome yang lebih berbahaya dampaknya. Jika perlu, ikutlah dalam supporting group yang memiliki concern khusus terkait kondisi ini.

Terakhir, konsultasilah pada ahlinya. Jika gejala ini berlangsung lama, sangat disarankan untuk menghubungi dokter psikiatri, psikolog. Tak perlu malu untuk mencari pertolongan untuk masalah kejiwaan Anda. Mencari pertolongan merupakan salah satu langkah penting agar Anda dan pasangan dapat kembali berfungsi dengan baik dalam keluarga Anda.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!