Penulis : Sara Neyrhiza
Saya seorang Ibu dengan anak TK. Menurut saya, jika saat ini diberlakukan pembelajaran tatap muka di sekolah, saya tidak setuju.
Hal ini tentu saja beralasan. Jadi ceritanya, di sekolah anak saya diadakan belajar tatap muka seminggu 2 kali, di mana tiap pertemuan hanya sekitar 5 anak yang hadir. Durasi belajar hanya sekitar 45 menit.
Dalam sesi tersebut yang terjadi adalah, guru sebagai pengajar dan anak didiknya, masing- masing tidak bisa konsisten menjaga jarak dan menggunakan masker. Tidak ada kesadaran penuh untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penularan virus jika ternyata ada individu yang terinfeksi. Akhirnya, saya mengambil tindakan bahwa anak saya tidak boleh mengikuti sesi belajar itu. Karena kondisi sosial tidak cukup saling menjaga satu sama lain.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa :
1. Tidak semua tenaga pendidik memiliki ketegasan dalam menerapkan protokol kesehatan. Kelalaian ini bisa berdampak besar, terlebih pada anak- anak yang imunitasnya rendah.
2. Anak usia TK masih belum mampu memahami risiko penularan virus yang akan terjadi. Sehingga mereka masih bebas berinteraksi dengan kawannya sama seperti keadaan normal.
Meski terbilang repot mengajar anak sendiri di rumah, tapi saya berusaha menikmati. Pandemi ini mengajarkan banyak hal pada saya dan suami, bahwasanya serepot apapun kami orang tua dengan pekerjaan dan kesibukan, namun anak adalah tanggungjawab kami. Termasuk dalam hal belajar. Di sinilah kami saatnya ambil peran. Mengajari anak dengan intens dengan tangan kami sendiri.
Maka Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ) masih belum tepat untuk saat ini. Baik untuk anak Tk bahkan sampai dengan perguruan tinggi.
Demikian opini dari saya. Terima kasih