Jika Anak Stres karena Orangtua Bercerai

Tidak ada pasangan menikah yang menginginkan perpisahan. Tetapi dalam hubungan rumah tangga hal ini mungkin saja terjadi. Ketika masalah perceraian tak bisa dihindari, anak-anak tentu juga mendapat imbasnya.  Baik itu secara fisik, dan terutama dari segi psikis. Meski demikian, tidak semua pasutri bercerai paham akan hal ini. Anak stres karena orangtua bercerai sangat mungkin terjadi. Lantas bagaimana sebaiknya sikap orangtua menghadapi anak yang stres karena orangtua bercerai?

Para ahli kesehatan jiwa menyatakan, sebagian besar anak akan merasa stres beberapa saat setelah orangtuanya bercerai. Stres ini bisa terjadi dalam waktu yang lama dan muncul kapan saja. Setelah resmi berpisah, baik si Ayah atau Ibu tentu akan memiliki hidup baru. Perubahan kondisi ini mau tak mau akan berpengaruh pada sang buah hati. Ada beberapa hal yang musti dilakukan, untuk meredakan stres pada anak akibat perceraian orangtua.

Dorong anak untuk mengungkapkan emosinya. Anak mungkin merasa marah, kecewa, sedih, takut, khawatir, dll. Biarkan anak menunjukkan apa yang dirasakanya terkait perceraian orangtuanya. Biarkan anak meluapkan emosinya, entah dengan menangis atau bahkan marah. Setelah anak melontarkan uneg-unegnya, penting untuk mengingatkan bahwa kedua orangtuanya akan selalu ada untuknya, dan tidak akan meninggalkan mereka.

Anak mungkin akan merasa bersalah dan merasa memiliki andil dalam perpisahan kedua orangtuanya. Orangtua harus memastikan, anak paham bahwa perceraian yang terjadi bukan disebabkan oleh si anak atau perilaku si anak. Orangtua harus terus-menerus meyakinkan tentang hal ini kepada anak-anak.  Anak juga harus diyakinkan, perceraian kedua orangtuanya tidak akan membuat kasih sayang untuk mereka berkurang.

Membuat jadwal pertemuan rutin dengan anak harus dilakukan.  Kedua orangtua harus memastikan, meski bercerai, anak harus mendapatkan kasih sayang dan waktu yang cukup dari kedua orangtuanya. Aturlah waktu supaya anak tetap bisa bertemu ayah atau ibunya.  Pastikan tidak ada hambatan ketika anak hendak menghabiskan waktu bersama ayah atau ibunnya. Jangan pernah tunjukkan di hadapan anak, “drama” kedua orangtuanya. Entah itu adu argumen atau bahkan hanya sebatas muka masam.

Pada beberapa kondisi, anak berusaha bersikap baik-baik saja, seolah tidak ada masalah. Mereka mungkin akan menunjukkan ekspresi dan beraktivitas seperti biasa. Tetap awasi  kemungkinan perubahan perilaku seperti pola makan, prestasi sekolah, berat badan, kebiasaan tidur dan lain-lain. Bisa  jadi itu menjadi tanda bahwa anak diam-diam merasa stress bahkan depresi.

Bangunlah support system yang baik, bisa dengan melibatkan anggota keluarga lain, guru kepercayaanya, atau mungkin temannya untuk menjadi teman bicaranya. Terkadang, anak merasa nyaman membagikan perasaannya kepada orang lain karena takut membebani orangtuanya. Yang pasti Anda harus yakin, anak korban perceraian tetap bisa tumbuh dengan baik. Selama ada kerja sama yang baik antara Anda dan mantan pasangan, juga saling terbuka dengan anak, hal ini akan memberikan energi positif yang membantu anak melalui masa-masa sulit dengan baik.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!