Mendorong Anak untuk Mandiri Belajar

Salah satu tugas orangtua yang cukup pelik ketika anak sudah bersekolah adalah mendampinginya belajar. Kadang urusan ini cukup menguras energi dan emosi. Mana pelajaran anak sekarang sudah berbeda dengan zaman orangtuanya sekolah dulu. Sudah begitu, orangtua juga mesti meninggalkan aktivitasnya dan meluangkan waktu tersendiri yang tidak sedikit demi agar bisa mendampingi anak belajar. 

Namun tugas itu akan menjadi ringan kalau anak sudah mandiri belajar. Nah membuat agar anak mandiri belajar ini memang tidak gampang. Namun juga bukan hal yang tidak mungkin dilakukan.  Untuk mendorong anak agar mandiri belajar, orangtua bisa coba melakukan hal-hal berikut ini:

  • Beri pemahaman

Untuk menggugah kesadaran anak, berikan pemahaman kepada anak akan pentingnya belajar rutin setiap hari.  Beri dia gambaran tentang apa yang bisa dicapainya bila hal itu dilakukan. Berikan contoh-contoh nyata orang yang berhasil karena rajin belajar.

  • Ciptakan suasana dan kebiasaan belajar

Ciptakan suasana yang kondusif saat waktunya belajar. Misalnya seusai makan malam pada pukul 19.00 WIB-21.00 WIB setiap hari kecuali malam hari libur. Matikan televisi, jauhkan ponsel dan potensi lain yang bisa menjadi gangguan untuk belajar.  Kalau perlu buat itu menjadi aturan yang disepakati setiap anggota keluarga.  Buat kegiatan belajar menjadi kebiasaan setiap hari.

  • Beri waktu jeda

Beri jeda buat anak. Biarkan dia tetap punya waktu bermain. Apalagi bila anak masih di kelas rendah sekolah dasar. Di kelas rendah anak baru menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru yaitu belajar lebih serius  dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding saat taman kanak-kanak, yang semua pembelajaran dilakukan dengan pola bermain. Bahkan ketika anak duduk di kelas tinggi, tetap butuh jeda untuk mengistirahatkan pikiran.

  • Jangan fokus pada nilai

Jangan buat diri Anda dan juga anak Anda terus menerus berfokus pada nilai.  Anak yang suka belajar, melewati proses pembelajaran dengan baik, menunjukkan kestabilan pikiran dan emosi jauh lebih penting daripada sekadar angka-angka.

  • Beri apresiasi

Berikan pujian kepada setiap prestasi anak. Termasuk peningkatan-peningkatan yang dilakukannya. Misalnya pekan kemarin dia belum belajar rutin. Sekarang dia sudah rutin belajar. Dengan demikian anak akan termotivasi untuk terus mempertahankan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!