Waspadai Defisiensi Testosteron pada Laki-Laki

Testosteron merupakan hormon yang diidentikkan sebagai hormon pria. Hormon inilah yang bertanggungjawab atas pembentukan massa otot, ketahanan energi, hingga libido. Hormon ini pula yang berperan pada perubahan karakteristik seks sekunder di masa puber, contohnya suara yang berubah menjadi lebih berat. Hormon ini meningkat selama masa pubertas dan puncakanya terjadi ketika laki-laki berusia sekitar 20an tahun. Kekurangan atau defisiensi testosteron juga mungkin dialami laki-laki sepanjang hidupnya.

Menurut para ahli kesehatan, kadar hormon testosteron dalam tubuh pria normalnya berkisar antara 250-1100 ng/dL (nanogram per desiliter) dengan kadar rata-rata 680 ng/dL. Setelah berusia 30 tahun ke atas, kadar hormon ini akan berkurang sekitar satu persen tiap tahunnya. Ketika laki-laki  mencapai usia 65, kadar hormon testosteron normal berkisar antara 300-450 ng/dL. Meski merupakan gejala alamiah, defisiensi testosteron juga dapat terjadi di luar pengaruh usia.

Defisiensi testosteron juga dapat dipicu oleh kejadian hipogonadisme, kondisi di mana testis memproduksi terlalu sedikit hormon testosteron. Infeksi dan cedera pada testis, masalah pada tiroid, diabetes tipe 2, efek samping obat tertentu, dan kelainan genetik juga bisa memicu defisiensi testosteron. Gaya hidup seperti konsumsi alkohol berlebihan dan sering stres juga dapat menyebabkan defisiensi testosteron. Kondisi ini akan bermanifestasi pada gangguan fungsi seksual, seperti menurunnya hasrat seksusal, ketidaksuburan, hingga serta berkurangnya frekuensi ereksi.

Berkurangnya hormon testosteron juga dapat menyebabkan perubahan fisik seperti, tulang menjadi rapuh, meningkatnya lemak tubuh dan kolesterol, berkurangnya rambut pada tubuh, berkurangnya kekuatan atau massa otot, mudah lelah, pembesaran pada kelenjar payudara serta hot flashes atau kemerahan pada wajah. Secara mental, penurunan kadar testosteron juga muncul dengan gejala seperti: depresi dan sering merasa sedih, kurang motivasi, bermasalah pada konsentrasi dan daya ingat hingga berujung pada penurunan kualitas hidup.

Untuk mengetahui apakah kadar hormon testosteron Anda normal atau tidak, maka Anda dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter. Sebagian ahli merekomendasikan untuk memantau kadar hormon testosteron tiap lima tahun sekali, dimulai sejak berusia 35 tahun. Jika diketahui bahwa Anda mengalami gejala kadar hormon testosteron rendah, dokter mungkin akan menganjurkan terapi hormon. Selain itu, pola hidup sehat, bebas alkohol dan bebas stress sangat disarankan untuk menghindari terjadinya defisiensi testosteron.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!