Hindari Labelling pada Anak

Dalam kehidupan sehari-hari kadang ada orangtua yang entah sadar atau tidak suka melakukan labelling pada anak-anaknya. Saat berkomunikasi, meraka melabeli anaknya sendiri dengan sebutan “bodoh”, “malas” atau sebutan negatif lainnya.  Itu biasanya dilakukan ketika tidak memenuhi ekspektasi mereka, misalnya dalam hal belajar.

Ibu, melabeli anak-anak seperti itu sungguh hal yang harus dihindari oleh setiap orangtua. Sebab saat mendapat label negatif, tak hanya menyakitkan bagi anak. Lebih dari itu anak akan mengakui bahwa dirinya benar-benar bodoh atau malas. Ini berbahaya. Seorang dokter dari University of California, San Francisco yang mengamati perkembangan perilaku anak, dr Neal Rojas MD menyatakan banyak anak kesulitan melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Sehingga ketika dia kesulitan saat melakukan sesuatu bukan berarti dia bodoh atau malas.

Kadang orangtua yang harus kreatif mengubah sesuatu yang membosankan menjadi menyenangkan untuk dilakukan anak. Untuk mengganti mengajarinya menulis di buku tulis, kadang orangtua harus membeli papan tulis, kemudian mulai mengajak anak belajar menulis dengan kapur warna warni. Bisa juga membentuk huruf-huruf dari permainan playdoh (plastisin).

Kadang orangtua juga begitu gampang melabeli anak dengan sebutan negatif karena anak dinilai tak mampu bahkan tak memperhatikan ketika diberi instruksi melakukan sesuatu. Padahal terkadang yang salah si orangtua sendiri. Mereka gemar berteriak dari jauh saat menyuruh anak melakukan sesuatu. Padahal cara memberi instruksi kepada anak yang paling baik ada saat berada di dekatnya. Tatap matanya, dan mulai memberikan instruksi dengan jelas dan penuh kasih sayang. Bukan dengan berteriak dari lantai atas atau dari dapur. Jadi, alih-alih memberikan label yang negatif pada anak sendiri, sebaiknya orangtua banyak-banyak mengoreksi diri sendiri. Sudahkah benar cara mendidik dan berkomunikasi dengan anak? Ingat selalu, tak ada anak yang bodoh. Semua anak itu unik. Tugas orangtualah untuk menemukan keunikan anak dan mengasah potensinya.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!