Mendidik Anak untuk Belajar Menerima Kekalahan

Menerima kekalahan dengan sikap ksatria itu tidak mudah. Ego dalam diri yang membuat orang susah menerima kenyataan bahwa dirinya bukan pemenang. Oleh karena itu menerima kekalahan dengan legawa (lapang dada) menjadi ciri-ciri seseorang bisa disebut ksatria. Sikap ksatria ini berperan penting saat anak menjadi orang dewasa kelak.

Sejak kecil, anak-anak harus dididik untuk bisa menerima kekalahan dengan lapang dada. Caranya adalah berikut ini:

  • Memahami hakikat kompetisi

Seorang anak yang sudah bisa diajak berkomunikasi, harus diberi pemahaman tentang hakikat sebuah kompetisi. Ada saatnya menang, ada saatnya kalah. Kekalahan, sebagaimana kemenangan adalah hal biasa dalam kompetisi.

  • Tidak suka mencari alasan

Ketika anak sudah memahami hakikat kompetisi, maka saat mengalami kekalahan dia harus dibimbing untuk bersabar, daripada mencari alasan demi menonjolkan ego.

  • Tidak gampang menyalahkan pihak lain

Bimbing anak untuk tidak gemar menyalahkan hal-hal di luar dirinya saat mengalami kekalahan. Kalah ya kalah. Tidak perlu menyalahkan cuaca, situasi, apalagi wasit.

  • Kalah bukan akhir segalanya

Katakan pada anak, bahwa kekalahan adalah bagian dari proses kehidupan. Kekalahan bukan akhir segalanya. Walau kalah, besok matahari masih terbit dari timur. Pohon masih akan berbuah. Burung masih berkicau.

  • Belajar dari kesalahan

Bimbing anak untuk menjadikan kekalahan sebagai bahan introspeksi diri. Buat daftar kesalahan yang mungkin dilakukan sehingga membuatnya kalah dalam kompetisi.

  • Menghargai panitia dan lawan

Hasil apapun yang diraih, anak harus diajarkan untuk menghargai penyelenggara dan lawannya dalam kompetisi. Tetap menyalami dan tersenyum kepada mereka. Ini adalah sikap yang terpuji.

  • Gembira melihat orang lain senang

Bangun mindset untuk ikut bergembira menyaksikan orang lain senang. Jadi ketika anak kalah, dia tidak akan terlalu terpuruk. Karena melihat orang lain senang juga merupakan kegembiraan baginya.

  • Berusaha melakukan yang terbaik

Anak mesti digembleng untuk selalu berusaha dan melakukan yang terbaik. Soal hasil, itu belakangan. Apapun hasilnya, sepanjang dia telah berusaha melakukan yang terbaik, maka dia adalah pemenang sejati.

  • Dukung anak apapun kondisinya

Katakan selalu kepada anak untuk tidak khawatir dengan hasil, sepanjang prosesnya sudah benar. Karena apapun yang terjadi, ada Anda, orangtuanya dan juga keluarga besar serta teman-teman yang selalu ada di sampingnya.

Suka artikel ini? Ayo bagikan!