Anda pernah menyimak kisah selebritis kocak, Fitri Tropica, yang sempat susah hamil karena mengalami sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS)? Di sisi lain, mungkin Anda juga pernah mendengar istilah polikistik ovarium atau polycystic ovaries (PCO)?
PCOS dan PCO, keduanya merupakan permasalahan yang terjadi berkaitan dengan fungsi organ reproduksi wanita, yaitu ovarium. Banyak yang mengira keduanya sama. Padahal satu dengan lainnya berbeda kondisinya, termasuk dampaknya, meskipun istilah keduanya mirip dan hanya terpaut 1 huruf.
Menurut penjelasan Dokter Spesialis Ginekologi dan Onkologi, Profesor Dr. H. Budi Santoso, dr., Sp.OG., (K), yang dilansir dari laman news.unair.ac.id, PCOS merupakan suatu gangguan metabolisme yang dialami wanita pada masa subur yang disebabkan faktor hormonal imbalance atau ketidakseimbangan hormon.
Perlu diketahui bahwa di samping memproduksi berbagai jenis hormon wanita, pada umumnya tubuh wanita juga memproduksi hormon laki-laki, di antaranya androgen dan testosteron, meskipun hanya dalam jumlah yang sedikit.
Nah, pada wanita dengan PCOS, produksi hormon androgennya justru lebih dominan dibandingkan produksi hormon wanita, yaitu hormon estrogen. Namun Profesor Budi menegaskan PCOS bukan termasuk dalam kategori penyakit, melainkan kumpulan gejala dari beberapa hal.
Sedangkan PCO, Wakil Dekan II Universitas Airlangga itu menjelaskan, biasanya muncul dalam bentuk kista ovarium dan umum terjadi pada perempuan.
Wanita yang mengalami PCOS atau PCO bisa saja memiliki beberapa gejala yang hampir sama, seperti nyeri panggul, nyeri punggung bawah, mual dan rasa tidak nyaman di perut, terutama ketika datang bulan. Namun untuk PCO, gejala tersebut relatif lebih ringan. Sementara PCOS, biasanya juga disertai beberapa gejala lain, di antaranya haid yang tidak teratur atau tidak ada siklus sama sekali, muncul masalah jerawat, pertumbuhan bulu-bulu yang berlebihan, hingga berat badan yang bertambah. Wanita dengan PCOS biasanya juga mengalami gangguan hormonal atau gangguan kesuburan hingga bisa menyebabkan sulit hamil.
Untuk bisa memastikan wanita mengalami PCOS, harus dilakukan serangkaian diagnosis antara lain dengan USG, pemeriksaan antimullerian hormone, test toleransi glucosa oral (TTGO) untuk melihat sensitivitas insulin. Diagnosis PCOS juga dilakukan untuk melihat ukuran ovarium, yang dalam kondisi ini biasanya membesar dan memiliki folikel (kantung-kantung yang berisi cairan).
Meskipun tidak membahayakan, PCOS ini selain bisa menyebabkan wanita susah hamil, juga dapat memunculkan risiko jangka panjang seperti diabetes, komplikasi kehamilan, penyakit kardiovaskular, obesitas, atau kanker endometrium. Sedangkan cara untuk memastikan PCO biasanya dilakukan dengan USG. Lewat pemeriksaan tersebut biasanya akan terlihat sel-sel telur kecil-kecil di ovarium.
Pada umumnya, PCO tidak mempengaruhi kesuburan wanita. Wanita dengan PCO ini masih bisa hamil. Untuk penanganannya, pada tingkat ringan dan normal, kista ovarium tidak membutuhkan penanganan khusus karena akan hilang dengan sendirinya. Kecuali jika ukuran kista tersebut besar atau berpotensi menjadi kanker, maka PCO juga ditangani dengan prosedur bedah.
Sedangkan untuk PCOS, penanganan yang dilakukan biasanya lebih intensif sesuai tingkat keparahannya. Dokter biasanya akan memberikan obat-obatan yang sifatnya hormonal, serta obat untuk menekan atau mengurangi risiko penyakit atau gangguan kesehatan yang dapat muncul dari kondisi tersebut. Penderita PCOS ini juga akan disarankan untuk mulai mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, mengatur pola makan yang baik hingga rutin berolahraga.
Khusus bagi wanita dengan PCOS yang ingin program hamil, dokter juga akan memberikan perhatian lebih dan penanganan khusus agar dapat terealisasi.